Penemu Vaksin Pertama Ar Razi

Penemu Vaksin Pertama ar Razi




5
(3428)

Ilmuwan Muslim Penemu Vaksin Pertama

Siapa penemu vaksin pertama di dunia ? Metode vaksinasi atau vaksin bermula dari penemuan seorang ilmuwan muslim bernama Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar Razi atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 – 930. Ar Razi diketahui sebagai ilmuwan serba bisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam.

Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.

Kontribusi Bidang Ar Razi

Cacar dan campak

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar:

  1. “Cacar terjadi ketika darah ‘mendidih’ dan terinfeksi, dimana kemudian hal ini akan mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya seperti anggur yang matang. Pada tahap ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk gelembung pada minuman anggur. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa kanak-kanak, tetapi juga masa dewasa. Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa menjadi epidemi.”
  2. Diagnosa ini kemudian dipuji oleh Ensiklopedia Britanika (1911) yang menulis: “Pernyataan pertama yang paling akurat dan tepercaya tentang adanya wabah ditemukan pada karya dokter Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes, dimana dia menjelaskan gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah tersebut.”
  3. Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir ar-Razi dalam buku ini.

Berikut ini adalah penjelasan lanjutan ar-Razi: “Kemunculan cacar ditandai oleh demam yang berkelanjutan, rasa sakit pada punggung, gatal pada hidung dan mimpi yang buruk ketika tidur. Penyakit menjadi semakin parah ketika semua gejala tersebut bergabung dan gatal terasa di semua bagian tubuh. Bintik-bintik di muka mulai bermunculan dan terjadi perubahan warna merah pada muka dan kantung mata. Salah satu gejala lainnya adalah perasaan berat pada seluruh tubuh dan sakit pada tenggorokan.”

Alergi dan demam

Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit “alergi asma”, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. ar-Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri.

Farmasi

Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. ar-Razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.

Etika

Ar-Razi juga mengemukakan pendapatnya dalam bidang etika kedokteran. Salah satunya adalah ketika dia mengritik dokter jalanan palsu dan tukang obat yang berkeliling di kota dan desa untuk menjual ramuan. Pada saat yang sama dia juga menyatakan bahwa dokter tidak mungkin mengetahui jawaban atas segala penyakit dan tidak mungkin bisa menyembuhkan semua penyakit, yang secara manusiawi sangatlah tidak mungkin. Tapi untuk meningkatkan mutu seorang dokter, ar-Razi menyarankan para dokter untuk tetap belajar dan terus mencari informasi baru.

Sertifikat Vaksinasi Zaman Khalifah Usmaniyah Turki

Sertifikat Vaksinasi Zaman Khalifah Usmaniyah Turki

Dia juga membuat perbedaan antara penyakit yang bisa disembuhkan dan yang tidak bisa disembuhkan. Ar-Razi kemudian menyatakan bahwa seorang dokter tidak bisa disalahkan karena tidak bisa menyembuhkan penyakit kanker dan kusta yang sangat berat. Sebagai tambahan, ar-Razi menyatakan bahwa dia merasa kasihan pada dokter yang bekerja di kerajaan, karena biasanya anggota kerajaan suka tidak mematuhi perintah sang dokter. Ar-Razi juga mengatakan bahwa tujuan menjadi dokter adalah untuk berbuat baik, bahkan sekalipun kepada musuh dan juga bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Buku-buku Ar-Razi pada bidang kedokteran

Berikut ini adalah karya ar-Razi pada bidang kedokteran yang dituliskan dalam buku:

  • Hidup yang Luhur (Arab: الحاوي).
  • Petunjuk kedokteran untuk masyarakat umum (Arab:من لا يحضره الطبيب).
  • Keraguan pada Galen.
  • Penyakit pada anak.
  • Pandangan tentang agama.

Sejumlah karya dan pernyataan kontradiktif tentang agama telah dianggap berasal dari Razi. Menurut Bibliografi Razi al-Biruni (Risāla fih Fihrist Kutub al-Rāzī), Razi menulis dua “buku sesat”: “Fī al-Nubuwwāt (Tentang Nubuat) dan” Fī Ḥiyal al-Mutanabbīn (Tentang Trik Nabi Palsu). Menurut Biruni, yang pertama “diklaim bertentangan dengan agama” dan yang kedua “diklaim menyerang kebutuhan para nabi”.

Dalam Risala-nya, Biruni lebih lanjut mengkritik dan menyatakan hati-hati tentang pandangan agama Razi, mencatat pengaruh Manichaeisme. Namun, Biruni juga mendaftar beberapa karya Razi lain tentang agama, termasuk Fi Wujub Da’wat al-Nabi ‘Ala Man Nakara bi al-Nubuwwat (Kewajiban untuk Menyebarkan Ajaran Nabi Terhadap Mereka yang Membantah Nubuat) dan Fi anna li al -Insan Khaliqan Mutqinan Hakiman (Manusia itu memiliki Pencipta yang Bijaksana dan Sempurna), terdaftar di bawah karya-karyanya tentang “ilmu ilahi”. Tak satu pun dari karyanya tentang agama sekarang ada sepenuhnya.

Tampilan Sertifikat Vaksin Di Zaman Turki Usmani

Pandangan dan kutipan lain yang sering dianggap berasal dari Razi ditemukan dalam sebuah buku yang ditulis oleh Abu Hatim al-Razi, yang disebut Aʿlām al-nubuwwa (Tanda-Tanda Nubuat), dan bukan dalam karya Razi yang masih ada. Abu Hatim adalah seorang misionaris Isma’ili yang memperdebatkan Razi, tetapi apakah dia dengan setia mencatat pandangan-pandangan Razi masih diperdebatkan.

Menurut Abdul Latif al-‘Abd, profesor filsafat Islam di Universitas Kairo, Abu Hatim dan muridnya, īamīd al-dīn Karmānī (wafat setelah 411 H/1020 M), adalah ekstremis Isma’ili yang sering salah mengartikan pandangan Razi dalam karya mereka. Pandangan ini juga dikuatkan oleh para sejarawan awal seperti al-Shahrastani yang mencatat “bahwa tuduhan seperti itu harus diragukan sejak dibuat oleh Ismailiyah, yang telah diserang oleh Muḥammad ibn Zakariyyā Rāzī”.

Al-‘Abd menunjukkan bahwa pandangan yang diduga diungkapkan oleh Razi bertentangan dengan apa yang ditemukan dalam karya-karya Razi sendiri, seperti Pengobatan Spiritual (Fī al-ṭibb al-rūḥānī). Peter Adamson sependapat bahwa Abu Hatim mungkin “sengaja salah menggambarkan” posisi Razi sebagai penolakan terhadap Islam dan mengungkapkan agama. Sebagai gantinya, Razi hanya berdebat menentang penggunaan mukjizat untuk membuktikan ramalan Muhammad, antropomorfisme, dan penerimaan yang tidak kritis terhadap taqlid melawan naẓar. Adamson menunjukkan karya Fakhr al-din al-Razi di mana Razi dikutip mengutip Al-Quran dan para nabi untuk mendukung pandangannya.

Penemu Vaksin Pertama Ar Razi Ilmuwan Muslim

Beberapa sejarawan, seperti Paul Kraus dan Sarah Stroumsa, menerima bahwa kutipan yang ditemukan dalam buku Abu Hatim dapat dikatakan oleh Razi selama debat atau dikutip dari karya yang sekarang hilang. Mereka berpendapat bahwa karya yang hilang ini adalah al-ʿIlm al-Ilāhī yang terkenal atau karya independen lain yang lebih pendek yang disebut Makharīq al-Anbiyāʾ (Trik Penipuan Para Nabi).

Namun, Abu Hatim tidak secara eksplisit menyebut nama Razi dalam bukunya, tetapi menyebut lawan bicaranya hanya sebagai mulḥid (lit. “zindik”). Menurut perdebatan dengan Abu Hatim, Razi menyangkal keabsahan nubuat atau tokoh otoritas lainnya, dan menolak mukjizat kenabian. Dia juga mengarahkan kritik pedas pada agama-agama yang diwahyukan dan kualitas menakjubkan dari Quran. Karena tampaknya tidak terkendali oleh tradisi agama atau filosofis apa pun, Razi akhirnya dikagumi sebagai pemikir bebas.

Pranala luar

How useful was this post?
Click on a star to rate it!

5 ( 3428 Votes )

Silahkan Rating!
Penemu Vaksin Pertama ar Razi

No votes so far! Be the first to rate this post.

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Kirimi saya email ketika halaman ini telah diperbarui

Apakah artikel ini membantu ?
YaTidak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *